Trading
Apa itu Inverted Yield Curve
Inverted Yield Curve adalah kondisi dalam pasar obligasi di mana suku bunga obligasi jangka pendek lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga obligasi jangka panjang.
Biasanya, yield curve memiliki kemiringan positif, di mana obligasi dengan jangka waktu lebih panjang menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk mengkompensasi risiko yang lebih besar.
Namun, pada inverted yield curve, situasi tersebut terbalik, yang berarti investor mendapatkan imbal hasil lebih tinggi dari obligasi jangka pendek dibandingkan dengan obligasi jangka panjang. Inverted yield curve sering dianggap sebagai sinyal peringatan adanya resesi di masa depan.
Fungsi Inverted Yield Curve
Inverted yield curve memiliki beberapa fungsi dan interpretasi dalam dunia ekonomi dan keuangan:
1. Indikator Resesi
Salah satu fungsi utama inverted yield curve adalah sebagai indikator resesi ekonomi. Sejarah menunjukkan bahwa inverted yield curve sering kali mendahului periode resesi ekonomi.
Ketika investor mengantisipasi perlambatan ekonomi, mereka cenderung membeli obligasi jangka panjang untuk melindungi modal mereka, yang menyebabkan imbal hasil jangka panjang turun, sementara imbal hasil jangka pendek naik.
2. Sinyal Ketidakpastian Pasar
Inverted yield curve juga menandakan ketidakpastian di pasar, di mana investor tidak yakin tentang arah kebijakan moneter di masa depan, terutama terkait suku bunga dan inflasi.
Ketika pasar obligasi mulai bergerak menuju inverted yield curve, hal ini menandakan ketakutan bahwa pertumbuhan ekonomi akan melambat.
3. Panduan Pengambilan Keputusan Investasi
Bagi investor, keberadaan inverted yield curve dapat menjadi panduan dalam menentukan alokasi aset mereka.
Inverted yield curve biasanya mendorong investor untuk mempertimbangkan aset yang lebih aman, seperti obligasi jangka panjang, karena risiko yang meningkat dalam pasar saham atau sektor lain.
Cara Kerja Inverted Yield Curve
Inverted yield curve terbentuk melalui dinamika permintaan dan penawaran dalam pasar obligasi. Berikut adalah langkah-langkah bagaimana inverted yield curve bekerja:
1. Permintaan Obligasi Meningkat
Ketika investor mulai khawatir tentang prospek ekonomi jangka pendek, mereka cenderung membeli obligasi jangka panjang untuk melindungi investasi mereka. Pembelian obligasi yang signifikan ini meningkatkan permintaan, yang pada akhirnya menekan imbal hasil obligasi jangka panjang turun.
2. Penurunan Imbal Hasil Obligasi
Imbal hasil obligasi jangka panjang akan turun sebagai respons terhadap meningkatnya permintaan, sementara suku bunga obligasi jangka pendek tetap tinggi atau bahkan meningkat karena ketidakpastian di pasar keuangan.
3. Kenaikan Suku Bunga
Suku bunga jangka pendek dapat meningkat karena kebijakan moneter yang ketat dari bank sentral. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi atau menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, biaya pinjaman jangka pendek akan meningkat, menyebabkan imbal hasil obligasi jangka pendek naik.
4. Terbaliknya Kurva Imbal Hasil
Akhirnya, kurva imbal hasil menjadi terbalik ketika imbal hasil obligasi jangka pendek lebih tinggi daripada imbal hasil obligasi jangka panjang. Ini mencerminkan pandangan pasar bahwa kondisi ekonomi dalam jangka panjang akan lebih lemah dibandingkan dengan kondisi saat ini.
Sejarah Inverted Yield Curves
Historical Examples of Inverted Yield Curves - Inverted yield curve telah terbukti menjadi salah satu indikator ekonomi yang andal dalam memprediksi resesi. Beberapa contoh dalam sejarah menunjukkan betapa pentingnya fenomena ini dalam memprediksi kondisi ekonomi:
1. Resesi 2008
Sebelum krisis keuangan global pada 2008, inverted yield curve muncul pada akhir 2006 hingga awal 2007. Hal ini mengisyaratkan bahwa investor sudah mengantisipasi perlambatan ekonomi, yang akhirnya berujung pada resesi besar yang dipicu oleh krisis perumahan dan kredit subprime.
2. Resesi Awal 2000-an
Pada akhir 1990-an, inverted yield curve muncul sebelum pecahnya gelembung teknologi pada 2000. Gelembung tersebut, yang dikenal sebagai Dot-com Bubble, menyebabkan penurunan tajam di pasar saham teknologi dan memicu resesi.
3. Resesi 1990-1991
Pada tahun 1989, inverted yield curve juga muncul sebelum resesi awal 1990-an. Resesi ini dipicu oleh kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh Federal Reserve untuk mengendalikan inflasi serta krisis di sektor keuangan dan real estate.